Posts

Image
Pada hari aku melihat matamu berbinar-binar, haus akan ilmu pengetahuan. saat itu, aku jatuh hati—sedalam-dalamnya jatuh. Aku tak pernah percaya bahwa ketertarikan bisa muncul karena hal-hal sederhana, sampai hari itu datang. Kau berbicara tentang ilmu dengan keyakinan yang tak dibuat-buat. Ada sesuatu dalam caramu menatap dunia, seolah tak ada ruang untuk kebodohan, apalagi kepalsuan.  Sejak hari itu, aku tahu bahwa rasa ini bukan lahir dari keinginan untuk memiliki, melainkan kekaguman terhadap cara berpikirmu. Kau memandang belajar bukan sebagai kewajiban, tapi kebutuhan. Dan aku, yang selama ini muak dengan orang-orang yang hanya berbicara tanpa isi, mendadak merasa tenang di hadapanmu. Rasa itu tumbuh diam-diam, tanpa rencana.  Aku mencoba menolak, tapi setiap kali suaramu terdengar menjelaskan sesuatu, aku kalah. Bukan karena kelembutanmu, tapi karena logika dan ketegasanmu. Kau membuat berpikir kembali terasa menyenangkan. Maka di hari itu, aku jatuh hati. Bukan karena ...

Shattered

Image
Antara bintang yang enggan menyebut namamu, esok ia tak lagi menaruhmu di tatapku. Segala jejak telah larut, hanya tersisa wajah yang retak di permukaan ingatan yang kian terhapus. Kini perihalmu hanyalah gema, terperangkap di balik sunyi, pecah menjadi debu— yang kini tak lagi sanggup kusebut.
Image
Lima puluh detik aku membenci semua orang, sisanya aku mengagumimu. Lima puluh langkah ingin kutabrak semua manusia, sisanya aku mencarimu. Lima puluh kali aku bermimpi mencaci wajah-wajah asing, sisanya aku merayumu. Lima ratus lima puluh lima kali anganku merapal mantra petaka untuk menusukmu, sisanya aku mendoakanmu. Sedangkan, tiada “lima” yang cukup teruntai untuk meremukkan dunia. Dan belum juga bermula kau berhitung sampai lima, sudah kucintai kau tanpa sisa. Bumantara, sayangku—jika aku sudah cinta, maka kupersilakan kau 'tuk mendiamiku seutuhnya.

 Selamat tinggal, Bentala. 

Image
Bacalah judul yang telah kutuliskan itu, Bentala. Memang benarlah adanya. Pada kedatangan suratku kali ini, aku sudah tidak lagi menyisipkan angan-angan tentangmu dan remah-remah senja yang barangkali merontok di atas tanah ketika kamu tengah berusaha memasukkan sepotong senja itu ke dalam amplop surat.  Sudah tidak lagi malamku dihiasi dengan bunga tidur yang merekah dengan kelopak-kelopak berwarna jingga, sekalipun remang-remang lampu milikku yang sewarna petromaks berisikan panas minyak itu menyerupainya. Nyaris sama, bahkan. Bak pinang yang dibelah dua tepat di pusat lingkarnya. Sehingga, mula-mula, aku kerap terkejut ketika terbangun di sepertiga malam dengan pikiran yang belum sepenuhnya memegang kuasa. Lantaran yang kusaksikan bukanlah gulita, melainkan senja yang menenggelamkan seisi ruang. Kupikir, ini yang akan terjadi bila Pak Pos berhasil mengurungkan rasa penasarannya untuk membuka suratmu, tetapi ia justru gagal dalam melaksanakan tugas satu-satunya. Ia mengirimkanny...

Rekonsiliasi

Image
Sekarang juni—pertengahan tahun di pertengahan bulan, tepatnya. Dan hujan tengah mengguyur seisi kota dengan serempak.  Hujan kali ini tidak begitu deras. Namun, hujan yang seperti ini, mengingatkan saya akan latihan soal Bahasa Indonesia di tempat bimbel dahulu dalam mencerna maksud puisi.  Hujan Bulan Juni. Dulu, kakak tutor saya akan menjelaskan, kalau, interpretasi dari puisi tersebut adalah tentang kelembutan cinta.  Saya sempat mengernyitkan dahi waktu itu. Mengingat, karya seni sepatutnya tidak berpusat pada satu tafsiran. Karena yang mengapresiasi adalah banyak, maka seharusnya, maknanya bisa berlipat ganda.  Namun, seperti yang sudah-sudah. Ketika kepala saya menghadapi kompleksitas yang berkabut. Secara otomatis, otak saya akan mencari-cari Nyonya untuk menyederhanakannya. Agar saya memahaminya. Nyonya menjelaskannya dengan hati-hati. Saya tidak bisa melantunkan eksplanasinya dengan serupa. Yang jelas, malam itu saya mengerti kelembutan cinta itu seperti ap...

Perjalanan terakhir

Image
Tinggal beberapa langkah hingga aku sampai ke semenanjung dan melewati laut hingga pulau-pulau di sekitarnya.  Aku membawa banyak surat yang kusimpan di karung siap mengantarku hingga ke perbatasan. Entah milik siapa yang akan memutilasi ginjal sampai jantungku. Tapi aku lega sebab kabarnya karang akan mengantarkan sisa-sisaku dan membacakan surat ini untuk kematianku.  Aku meniup abuku supaya ia terbang menyampaikan hari-hari sebelum mengucapkan selamat tinggal. Berbisik kepada langit dan sebagian rerumputan di dasarnya. Kepada sungai-sungai juga pantai serta kepada ibu dan ayahku. Tinggal beberapa langkah hingga aku berhenti mengucapkan namaku. Dan seorang petani yang anaknya baru melahirkan memberi anaknya wejangan agar tak mendewasa sebelum akhir jaman. "Seorang kakak melaut, tapi ia tak pernah membawa ikan." Di semenanjung, aku meratapimu dan meratapiku. Sebab mungkin kita memang dikutuk untuk merdeka.

Labyrinth

Image
Kalau dipikir-pikir, Michael Kaiser hanya menginjakkan kakinya di auditorium universitas sebanyak dua kali. Pertama, ketika teman dekatnya, Alexis Ness, mengajak Kaiser menonton konser paduan suara di tahun pertama kuliah. Waktu itu meriah sekali. Riuh rendah penonton menggema ke seluruh sudut bangunan dalam frekuensi kagum yang sama tingginya. Telapak tangan Kaiser sampai sakit karena terlalu keras bertepuk tangan. Namun, usut punya usut, motif Ness — panggilan akrabnya — mengajak Kaiser  hanyalah  sebagai kedok. Ada  pancingan  yang hendak Ness  tangkap  dari salah satu barisan manusia di atas panggung sana. Seorang perempuan, yang entah bagaimana jelasnya, malah menjelma jadi  teman-tapi-melibatkan-perasaan . Yang kalau kata Kaiser sendiri, hubungan tanpa status seperti Ness adalah sebuah sakit yang disengajakan. Namun, Kaiser tetaplah Kaiser. Dia mencoba mengerti keputusan temannya, sekalipun dia tak mengerti esensi dari hubungan yang kejelasannya ...