Pada hari aku melihat matamu berbinar-binar, haus akan ilmu pengetahuan. saat itu, aku jatuh hati—sedalam-dalamnya jatuh. Aku tak pernah percaya bahwa ketertarikan bisa muncul karena hal-hal sederhana, sampai hari itu datang. Kau berbicara tentang ilmu dengan keyakinan yang tak dibuat-buat. Ada sesuatu dalam caramu menatap dunia, seolah tak ada ruang untuk kebodohan, apalagi kepalsuan. Sejak hari itu, aku tahu bahwa rasa ini bukan lahir dari keinginan untuk memiliki, melainkan kekaguman terhadap cara berpikirmu. Kau memandang belajar bukan sebagai kewajiban, tapi kebutuhan. Dan aku, yang selama ini muak dengan orang-orang yang hanya berbicara tanpa isi, mendadak merasa tenang di hadapanmu. Rasa itu tumbuh diam-diam, tanpa rencana. Aku mencoba menolak, tapi setiap kali suaramu terdengar menjelaskan sesuatu, aku kalah. Bukan karena kelembutanmu, tapi karena logika dan ketegasanmu. Kau membuat berpikir kembali terasa menyenangkan. Maka di hari itu, aku jatuh hati. Bukan karena ...