Selamat tinggal, Bentala.
Bacalah judul yang telah kutuliskan itu, Bentala.
Memang benarlah adanya. Pada kedatangan suratku kali ini, aku sudah tidak lagi menyisipkan angan-angan tentangmu dan remah-remah senja yang barangkali merontok di atas tanah ketika kamu tengah berusaha memasukkan sepotong senja itu ke dalam amplop surat.
Sudah tidak lagi malamku dihiasi dengan bunga tidur yang merekah dengan kelopak-kelopak berwarna jingga, sekalipun remang-remang lampu milikku yang sewarna petromaks berisikan panas minyak itu menyerupainya.
Nyaris sama, bahkan.
Bak pinang yang dibelah dua tepat di pusat lingkarnya.
Sehingga, mula-mula, aku kerap terkejut ketika terbangun di sepertiga malam dengan pikiran yang belum sepenuhnya memegang kuasa. Lantaran yang kusaksikan bukanlah gulita, melainkan senja yang menenggelamkan seisi ruang. Kupikir, ini yang akan terjadi bila Pak Pos berhasil mengurungkan rasa penasarannya untuk membuka suratmu, tetapi ia justru gagal dalam melaksanakan tugas satu-satunya.
Ia mengirimkannya pada alamat yang salah.
Bukan Alina yang alamatnya sudah dengan hati-hati kamu tulis dengan tinta, tetapi justru aku yang bukan siapa-siapa dalam duniamu itu yang menjadi penerima. Lalu, ketika bola-bola mataku sudah beberapa kali terkatup dan terbuka, kesadaranku pun membawakan segelas kecewa untuk kuteguk menuju kering dahaga di kerongkongan.
Senja itu tidak nyata.
Hanya warna yang dipancarkan dari lampu kamarku yang remang-remang.
Senja itu sekadar damba.
Hanya angan yang dipanjatkan dari relung dadaku yang begitu malang.
Namun, kini, aku tidak lagi memikirkan senja ketika melihatnya.
Bongkahan rasa dengki dan iri yang semula mendiami hatiku seperti duri-duri itu kini sudah tercabut tanpa meninggalkan satupun dari mereka yang terselip. Hatiku nampak berlubang-lubang dengan ukuran yang sangat kecil seperti pelitur kayu yang sudah jadi sarang rayap-rayap, tetapi aku sudah tidak lagi kesakitan tiap kali petang datang menggelimuni. Karena itu berarti, akan ada senja yang lebih dahulu mampir di depan teras rumah dan mengetuk-ngetuk pelan jendelaku yang tertutup tirai. Karena, kemudian, aku diingatkan dengan keberadaanmu, Bentala, dan segala kemegahan duniawi yang kamu persembahkan 'tuk Alina yang kamu cintai dalam satu lipatan amplop kecil.
Mengapa aku tidak bisa menjadi Alina?
Tanyaku di suatu ketika. Di akhir lamunan-lamunan siang bolongku ketika tidak ada satupun hal yang dapat kukerjakan. Atau ketika, lagi-lagi aku terduduk di depan mesin ketik modern yang kupangku sekalipun mesin itu sudah mulai memanas seperti tungku di atas kedua paha.
Tiap-tiap kali aku menuliskan tentangmu, Bentala, aku hanya berakhir dihantui dengan tanya demikian.
Mengapa aku tidak bisa menjadi Alina saja?
Yang manis tingkahnya, yang penuh sayang hadirnya. Yang adalah segala-galanya di dalam bola-bola matamu. Yang menjadikan lapisan air mata yang membaluti pandangmu itu bergenangan puja-puja. Sehingga, ketika kamu mengusap-usapnya entah karena gatal atau debu yang nakal, jemarimu yang sedikit basah itu hanya akan sanggup menuliskan seorang Alina. Kamu sudah tidak bisa mengenali siapa-siapa, sebab pada bola-bola matamu hanya Alina yang membayang. Maka, rasanya, tidak heran bila gadis kesepian sepertiku ini ingin menjadi Alina agar aku memiliki seorang Bentala.
Namun, sekarang sudah tidak lagi ingin itu kupunya.
Barangkali, aku sudah bertambah dewasa. Walau yang terus menumpuk hanyalah hari-hari tak bermakna. Sekadar bergantinya angka. Tetapi, nyatanya ada pula yang berubah dari cara pandangku terhadapmu, Bentala. Dan karena itu pula, aku menyadari, aku tidak pernah menginginkanmu sejak awal. Atau untuk menjadi seorang gadis manis yang bernama Alina.
Aku hanya ingin dicintai oleh seseorang.
Itu saja.
Tidak perlu semegah potongan senja seperti yang kamu lakukan. Mencintaiku nyatanya sesederhana berkata-kata. Yang, menurutmu, Bentala, tidak akan sanggup menjelaskan isi dada dengan lantang dan tepat. Sia-sia bila hanya mengirimkan kata-kata. Sehingga kamu pun mengirimkan senja. Namun, jika aku yang akan menerimanya, mungkin aku justru akan dihantui tanda tanya.
Apakah senja yang kamu kirimkan bermakna selamat tinggal?
Lantaran, senja hanya muncul ketika hari hendak berpisah dengan terang. Dan di waktu-waktu itu, banyak tangan yang saling melepaskan genggaman dan melambai-lambai dari kejauhan. Kicau-kicau burung yang jua turut kamu masukkan melagukan sebuah perpisahan, lantaran mereka sudah harus membawa lelah untuk pulang ke sarang mereka di atas pepohonan.
Aku hanya akan terus menerka dan menduga tanpa jeda. Memikirkan segala posibilitas makna yang mungkin ada. Takut, bila aku berbahagia atas apa-apa yang justru tidak dimaksudkan.
Ketimbang mendapatkan sepucuk surat berisikan bias-bias kemerahan senja, aku lebih memilih dicinta dengan sepiring waktu untuk disantap berdua dalam satu presensi yang nyata.
Mengingat bahwa kamu memiliki mobil bagus sewarna abu dengan plat bernomor SG 19658 A yang justru kamu gunakan untuk kabur lepas mencuri senja, alih-alih mendatangi Alina di kejauhan sana.
Kalau, aku, sih, dikunjungi hanya dengan gowesan sepeda ontel pun aku sudah akan melompat-lompat kegirangan di balik pintu rumah, sebulum akhirnya malu-malu membukanya untuk berjumpa. Pura-pura tidak ingin meledak sebagimana jantung di balik dadaku ini dengan hebat berdetak-detak. Lantas, akan ku persilahkan ia masuk setelah melepas sepasang sepatunya yang penuh debu-debu asap. Yang nanti akan kusikat diam-diam sebelum ia kembali beranjak dengan perut nan kenyang akan sayang.
Maka dari itu, aku sudah tidak memimpikanmu lagi, Bentala.
Tidak juga aku mengingini ia yang kusuka 'tuk jadi sepertimu.
Aku tidak ingin terkasihku itu 'tuk menjadi Bentala-ku, lebih-lebih menjadi Bentala yang memang bukan diciptakan teruntukku.
Ia punya nama yang tentu saja bukan Bentala milikmu.
Ia punya nama yang, sekalipun bukan Bentala, aku malah semakin ingin menyebut-nyebutnya tanpa koma dan tanpa titik di dalam tulisan-tulisanku yang tiada akan menjumpai usai. Sehingga tidak berjeda namanya akan tereja. Panjang kertasnya akan melintasi atap-atap rumah tetangga, jalan-jalan raya, dan bahkan batas-batas kota. Mungkin akan ada kebingungan dan keributan, lantaran ketika para warga terbangun, yang mereka lihat melintasi pekarangan hunian mereka dan jalan menuju kantor tempat mereka bekerja adalah kertas yang begitu panjang. Jika diliput dalam acara berita di televisi dengan wawancara terhadap para warga yang membaca kertas panjang itu, maka yang dapat mereka katakan hanyalah aku yang begitu menyukainya.
Dan kertas itu akan terus memanjang hingga sampai pada pintu rumahnya.
Tidak akan kugunakan perantara. Bahkan tidak dengan merpati-merpati yang baik hati sekalipun. Mereka juga dapat sesekali tersesat sebab keasyikan mencari biji-biji 'tuk disantap dalam perjalanan. Karenanya aku akan terus menuliskan namanya hingga ujung lain kertas panjang itu telah sampai dan terselip melalui celah-celah pintu kediamannya.
Kuharap, akan ia terima.
Atau, setidaknya, ditengoknya isi kertas panjang itu walau hanya sebagian. Lantas, jikapun ia akan membiarkan api 'tuk menjalari sebatang kertas panjang itu hingga hangus dan mengantarkan serpih-serpih abu di atas mejaku, aku juga tidak masalah.
Barangtentu aku akan menangis sejadi-jadinya. Sampai air asin itu akan mengenangi ruang tidurku yang tak seberapa, menjadikan pulau kapuk milikku bukan lagi semata-mata kiasan. Dan kedua kantung mataku akan menghitam sebab aku terus-terusan mengusapnya, berusaha mengusaikan air mata dengan kesepuluh jemariku yang berlumuran jelaga.
Namun, aku rasa, tidak apalah untuk merana, ketika aku sudah tuntas 'tuk coba mencinta dengan cara yang kupunya.
Ketimbang habis seutuh hatiku digerogoti oleh sesal yang tak bermuka.
Ini adalah akhir dari suratku, Bentala, yang juga berarti awal dari sebuah perpisahan.
Selamat tinggal untuk waktu yang, semoga, sangat, sangat, sangat lama.

Comments
Post a Comment