Rekonsiliasi
Sekarang juni—pertengahan tahun di pertengahan bulan, tepatnya. Dan hujan tengah mengguyur seisi kota dengan serempak.
Hujan kali ini tidak begitu deras. Namun, hujan yang seperti ini, mengingatkan saya akan latihan soal Bahasa Indonesia di tempat bimbel dahulu dalam mencerna maksud puisi.
Hujan Bulan Juni.
Dulu, kakak tutor saya akan menjelaskan, kalau, interpretasi dari puisi tersebut adalah tentang kelembutan cinta.
Saya sempat mengernyitkan dahi waktu itu. Mengingat, karya seni sepatutnya tidak berpusat pada satu tafsiran. Karena yang mengapresiasi adalah banyak, maka seharusnya, maknanya bisa berlipat ganda.
Namun, seperti yang sudah-sudah. Ketika kepala saya menghadapi kompleksitas yang berkabut. Secara otomatis, otak saya akan mencari-cari Nyonya untuk menyederhanakannya. Agar saya memahaminya. Nyonya menjelaskannya dengan hati-hati. Saya tidak bisa melantunkan eksplanasinya dengan serupa. Yang jelas, malam itu saya mengerti kelembutan cinta itu seperti apa.
Sebagai penyembah logika, jatuh cinta seperti durhaka karena memilih melenyapkan rasionalitas dalam tindak opresif yang tak berkesudahan. Dan saya memilih takluk pada kelembutan perasaan yang mengkudeta dari otak hingga jantung, lalu mengalir dan bersatu dalam ribuan sel dan darah di dalamnya.
Jatuh cinta kepada Nyonya, membuat saya mengibarkan bendera putih kepada pasukan logika. Alih-alih merebut kemenangan agar rasionalitas berjaya—saya menyerah. Saya memilih tidak berdaya.
Kalau, kalau hari itu saya berperang lagi. Agaknya melihat wajah Nyonya dari dekat begini, adalah berkah yang tak akan pernah saya nikmati.
Sekarang malam, alih-alih pulang, kita malah menunggu di dalam mobil. Agenda hari ini adalah menemani Nyonya skripsian sampai sore. Lalu lanjut mengitari kota mencari es potong, yang ternyata, tidak ketemu. Akhirnya, kita singgah ke minimarket untuk membeli tiga es krim; dua untuk Nyonya. Begitu masuk ke dalam mobil, hujan turun secara tiba-tiba. Buat kita sepakat untuk menunggu reda, sekaligus, menghabiskan waktu berdua.
Saya menyandarkan kepala di atas kemudi sambil terus memperhatikan Nyonya. Satu tangannya memegang es krim, satunya lagi memegang handphone dengan laptop di pangkuannya. Membicarakan tentang skripsi kepada dua temannya di ujung sana. Mungkin ada sekitar setengah jam mereka berbincang serius hingga telepon terputus—dengan Nyonya yang memandang saya sesudahnya.
"Nunggu lama, ya?"
Saya tersenyum kecil "Nggak"
"Terus, kenapa dari tadi nyender di setir"
Senyuman saya kembali melebar. "Mau lihat kamu dari sini."
Kedua matanya mengerling malas. Namun, saya bisa melihat linear merah muda di garis pipinya; cantik.
"Besok kamu jadi futsal sama anak angkatan?" Tanya Nyonya mencoba mengalihkan.
Saya menegakkan badan. "Tergantung."
"Tergantung apa? Lapangan? Tumben belum booked lapangan" balasnya bertubi-tubi seraya melihat saya.
"Tergantung kamu," jawab saya yang turut menatap Nyonya, yang kini menautkan kedua alis. "Tergantung kamu nonton atau nggak."
Sekarang matanya melirik malas, "Dih..."
Tak ayal saya tergelak. Ketika tawa sudah mereda, saya menarik tangan kanannya ke depan bibir, untuk dikecup ringan. Setelahnya, jempol saya mengelus lembut punggung tangannya seraya bertanya. "Tapi kamu nonton, 'kan?"
Kepalanya mengangguk. "Nonton. Sekalian ketemu teman-teman SMA juga. Paling, aku gak fokus nonton kamu karena sibuk catch up about our lives, alias, bergosip."
Tawa saya kembali meledak. Kali ini Nyonya ikut terkekeh meski suaranya tidak seheboh saya. Seiring gelak yang kian surut, saya kembali membalas.
"Kalau begitu, besok saya jemput kamu jam 2 siang, ya?" Nyonya mengangguk. "Masuk kuliah nanti, kita bakal sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kamu dengan skripsian, saya dengan praktek hukum. Untuk sekarang, manfaatin waktu berduaan sebanyak-banyaknya dulu."
Terdapat jeda selama lima detik sebelum Nyonya kembali bersuara. "Kayak kita gak ada waktu berduaan aja pas di kampus."
Saya tersenyum kecil. "Takutnya, takutnya kita gak ada waktu."
Nyonya menarik tangan saya—yang tengah menggenggam tangan kanannya—ke depan wajah. Detik selanjutnya, Nyonya ikut melakukan apa yang saya lakukan sebelumnya; mengecup punggung tangan saya dengan lembut.
"Pasti ada."
Begitu katanya seraya tersenyum manis. Sementara jantung saya berdegup lirih. Namun, melihat keyakinan dari sorot matanya, buat saya turut merasakan yang sama.
"Oke. Saya percaya kamu."
Nyonya tersenyum lebar diikuti anggukan kepala. Buat saya bergerak maju dan mengecup dahinya sayang. Mungkin sedikit lama dari biasanya. Tangan saya yang menganggur bergerak merengkuhnya erat. Sampai akhirnya kecupan itu selesai. Saya menundukkan kepala dan pandangan mata kita bertemu—kali ini buat saya menelan ludah akibat gugup.
"Saya mecintai kamu."
(Karena, Kamu.
Saya tak ingin rindu saya menjadi rahasia kepada pohon berbunga. Saya tak mau ragu itu membekas di setiap langkah. Saya tak mau segalanya terserap pada akar-akar pohon bunga.
Ia harus dilantangkan. Ia harus menjelma jadi kepastian. Ia harus tampak pada utuhmu.
Karena menurut saya, cinta seharusnya seperti itu)

Comments
Post a Comment