Lima puluh detik aku membenci semua orang, sisanya aku mengagumimu.

Lima puluh langkah ingin kutabrak semua manusia, sisanya aku mencarimu.

Lima puluh kali aku bermimpi mencaci wajah-wajah asing, sisanya aku merayumu.

Lima ratus lima puluh lima kali anganku merapal mantra petaka untuk menusukmu, sisanya aku mendoakanmu.

Sedangkan, tiada “lima” yang cukup teruntai untuk meremukkan dunia.

Dan belum juga bermula kau berhitung sampai lima, sudah kucintai kau tanpa sisa.

Bumantara, sayangku—jika aku sudah cinta, maka kupersilakan kau 'tuk mendiamiku seutuhnya.

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi