Renjana
Rumah, sebuah tempat tinggal, tempat berlindung, serta tempat beristirahat bagi para penghuninya. Tak jarang pula ada orang dapat mendefinisikan rumah sebagai manusia yang menjadi tempat berpulang. Seusai menjalani harinya di Bumi, mereka akan mencari rasa aman dan nyaman dalam diri manusia lain. Dari situlah mula-mula manusia dapat bermanifestasi menjadi tempat bernama rumah.
Namun sejatinya, tak ada rumah yang bersifat kekal. Segalanya punya waktu. Dan Lana, 23 tahun hidupnya telah kehilangan satu-satunya rumah tempat ia berpulang.
Rumahnya sudah runtuh, hancur melebur menjadi satu bersama laut biru paling dalam.
Maka ia rajut harapnya dalam doa tiap malam, merapalkannya dengan genap hati. Harapnya hanya satu, tolong bawa ia kembali pada rumah lamanya. Lana tidak meminta rumah baru, ia meminta rumah lama. Karena mau semewah apa pun rumah barunya itu, Lana akan selalu memilih rumah lama sebagai tempat ternyaman untuknya berpulang.
Dan pada halaman terakhir ini, seperti yang sebelumnya, Chakra tak bisa berbuat apa pun.
Pria dengan ruang sabar tanpa batas dan rela seluas samudera itu akhirnya resmi melepaskan Lana, ia menyerah.
Tak tahu kemana hatinya akan ia labuhkan lagi, tapi Chakra akan simpan untuk sementara bersama doa yang turut menyertai Lana dalam perjalanannya. Hingga dari ribuan doa yang Chakra panjatkan, Tuhan akhirnya menjawab pada amin yang kesekian.
"Lana, selamat berpulang ke rumah lamamu. Saya akan berdoa untukmu agar bahagia sentosa bersama Barata"
"Terima kasih. Chakra jangan lupa bahagia juga, ya?"

Kenapa bagus terus siiih? Diksinya sg pernah gagal cihuyyy. DITUNGGU DEBUT NOVELNYA!!!!!🌻🌻🌻
ReplyDelete