Labyrinth

Kalau dipikir-pikir, Michael Kaiser hanya menginjakkan kakinya di auditorium universitas sebanyak dua kali.

Pertama, ketika teman dekatnya, Alexis Ness, mengajak Kaiser menonton konser paduan suara di tahun pertama kuliah. Waktu itu meriah sekali. Riuh rendah penonton menggema ke seluruh sudut bangunan dalam frekuensi kagum yang sama tingginya. Telapak tangan Kaiser sampai sakit karena terlalu keras bertepuk tangan. Namun, usut punya usut, motif Ness — panggilan akrabnya — mengajak Kaiser hanyalah sebagai kedok. Ada pancingan yang hendak Ness tangkap dari salah satu barisan manusia di atas panggung sana. Seorang perempuan, yang entah bagaimana jelasnya, malah menjelma jadi teman-tapi-melibatkan-perasaan. Yang kalau kata Kaiser sendiri, hubungan tanpa status seperti Ness adalah sebuah sakit yang disengajakan.

Namun, Kaiser tetaplah Kaiser. Dia mencoba mengerti keputusan temannya, sekalipun dia tak mengerti esensi dari hubungan yang kejelasannya buram begitu.

Kedua, adalah sekarang.

Guna menonton pentas drama, yang kalau Kaiser tidak salah ingat, adalah bagian dari mata kuliah Drama Performance di jurusan Sastra Inggris semester ini. Sewaktu Kaiser datang — untung masih ada kursi kosong — ada tepuk tangan meriah sewaktu sekumpulan manusia membungkukkan setengah badannya. Tanda penampilan selesai. Tak lama kemudian, set panggung diubah diikuti lampu panggung yang dimatikan. Sebagai isyarat pertunjukan berikutnya akan dimulai sebentar lagi. Lampu sorot menyala. Dan di tengah panggung sana, berdiri perempuan yang membuka pentas dengan monolog merdu.

Lebih tepatnya, seorang perempuan yang menjadi alasan utama keberadaan Kaiser di sini.

Sebenarnya, auditorium ini mempunyai ukuran besar dengan kapasitas penonton yang mencapai ribuan massa. Ada tirai megah yang mengunci kedua sisi, agar panggung utama terlihat jelas hingga ke barisan belakang. Sekeliling kursi penonton pun didominasi banyak manusia dengan kesibukan berbeda. Ada yang mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, ada yang berlari ke sisi panggung, ada pula yang kebingungan mencari tempat kosong.

Namun, tak ada yang benar-benar menarik atensi lelaki, selain, puan yang memutar tubuhnya dengan riang di ujung panggung. Manik birunya bukan lagi memindai, tetapi mengunci. Entah ketika perempuan itu berlari ke lelaki di kanan panggung, lalu berjalan lambat ke pemeran londo di menit berikutnya, bersimpuh memeluk kaki perempuan, bersembunyi di properti menyerupai batu di kiri panggung, lalu ke depan, samping, belakang, ke mana saja.

Kalau ada yang bertanya ke Kaiser mengenai alur drama di hadapannya, sudah pasti Kaiser tidak akan bisa menjawabnya. Pasti. Atau mungkin, Kaiser akan menjawab dalam satu kata; perempuan. Perempuan cantik yang menghuni manik birunya sedari lima belas menit lalu. Perempuan. Perempuan. Perempuan.
Kaiser tak mengingat apapun, selain perempuan. Kaiser tak mendengar apapun, selain perempuan. Kaiser tak melihat apapun, selain, perempuan.

Perempuan. Perempuan. Perempuan.

Menggema dalam pikiran lelaki, lalu terjun bebas menuju jantungnya; berdenyut keras. Mengaliri darah ke seluruh tubuhnya sekaligus memekakkan satu presensi di hadapan.

Kaiser menghela napas panjang. Untungnya lelaki itu masih ingat caranya. Berikutnya dia menelan saliva dengan gusar. Sedari tadi, Kaiser menonton dengan mulut terbuka. Satu tangannya mengusap wajahnya kasar, lalu menyilangkan keduanya di kursi depannya untuk menjadi sandaran kepala lelaki. Menyaksikan sisa pentas dalam posisi nyaman. Memperhatikan sang gadis lewat sorot damba.

Dengan khusyuk. Dengan teduh. Dengan perasaan yang, lembut.

Hingga entah sudah berapa lama Kaiser bertahan di posisi yang sama, seluruh pemeran tengah berdiri dalam satu barisan panjang. Sambil berpegangan tangan, kesemuanya mulai mengangkat tautan tangan dan membungkukkan badan di detik selanjutnya. Menghadirkan gemuruh tepuk tangan. Menghadirkan sorak sorai massa. Menghadirkan kagum yang masih melekat, di dada lelaki terutama.

Lalu semua pemeran menegakkan tubuh di hitungan kelima. Bertepuk tangan seraya melempar senyum. Memeluk sesama anggota. Dan mulai mengedarkan pandang ke seisi auditorium.

Termasuk, yang perempuan.

Seperti pemanah ulung, netra gelap itu membidik manik biru dengan tepat sasaran. Kedua mata perempuan melebar. Satu tangannya melambai riang. Ada sengat bahagia yang menjalari tubuh sewaktu lelaki Kaiser benar-benar menepati janji. Senyumnya merekah. Terlampau lebar hingga kedua matanya nyaris membentuk bulan sabit.

Terlampau lebar, hingga Michael Kaiser bergumam, “Cantik,” dalam hatinya.

Selanjutnya, mereka mulai menuruni panggung. Dengan Kaiser yang bertahan di tempat duduknya. Pikirannya tengah berdiri di dua pilihan; menghampiri puan, atau menuruti instingnya agar tetap di sini.

Sebab, entah bagaimana caranya, Kaiser yakin sang gadis yang akan menghampirinya.

Dan, memang benar.

Dari kejauhan, terlihat perempuan sedikit berlarian mendekati Kaiser. Buat Kaiser merasakan canggung yang luar biasa dalam sekejap. Satu tangannya mengusap tengkuknya acak, sedang satunya mengeratkan kepalan tangan. Hingga yang jauh itu hanya sejauh dua langkah dari hadapannya.

“KAI!” Sapanya riang sebelum duduk di sebelah Kaiser. “Makasih udah datang, ya!”

Kaiser tersenyum simpul. Kemudian berdeham kecil, “Sama-sama. Kamu … keren banget tadi.”

Lawan bicaranya ikut tersenyum. “Berarti gak sia-sia aku latihan selama ini.”

Keduanya terkekeh dalam alunan seirama. Lalu, auditorium kembali menggelap. “Kamu harus nonton yang ini, Kai! Setting-nya modern. Jadi, kamu bakal lebih relate, deh,” bisik perempuan. Kaiser mengangguk ringan. Mencoba memahami, meskipun tidak ada jaminan dirinya akan begitu.

Sambil menunggu panggung berikutnya, tiba-tiba Kaiser teringat sesuatu. “Eita gak datang?” Tanyanya lirih.

Mendengar itu, yang perempuan menghembuskan satu napas panjang. “Nggak, Kai. Dia dapat job dadakan gitu, deh, dari koneksi dosennya. Jadi gitaris pengganti untuk acara off-air. Aku baru dikasih tahu semalam, sih. Lebih tepatnya, dikasih tahu setelah dia GR sama seluruh panitia. Jadi, yaaa gituuu, deh.”

Kaiser membulatkan mulut seraya mengangguk pelan. “Maaf nanya gitu, ya.”

Yang perempuan menolehkan kepalanya. “Maaf untuk apa?”

“Karena kamu sedih?” Balas Kaiser cepat.

Ada jeda panjang sebelum sang dara menyandarkan tubuhnya di kursi. “Sedihnya udah hilang pas kamu beneran datang ke sini, Kai. Jadi, makasih banyak, ya? It really means the world to me,” jawabnya sambil melirik Kaiser.

Keduanya bertatapan. Dan yang ini, bukan hanya mengunci manik masing-masing, melainkan kemampuan Kaiser bernapas.

Sorot lampu kembali menerangi auditorium. Yang perempuan memutus kontak mata lebih dulu. Dan Michael Kaiser, tidak pernah sebersyukur ini atas penemuan lampu sorot sebelumnya.

Setidaknya, hal itu menyelamatkan Kaiser atas kematian yang tidak direncanakan akibat kekurangan oksigen. Namun, tidak. Tidak untuk kali ini, mungkin.

Jadi, sepasang manusia di baris ketiga kursi penonton itu mulai mengamati jalannya pentas dengan seksama. Yang lelaki sesekali bertanya, dan yang perempuan selalu sigap menjawabnya. Satu per satu. Dan tak terputus. Entah itu tentang para pemeran, atau alurnya yang terlihat menarik, akhir drama yang tak mau dijawab puan dan Kaiser akan mengerucutkan bibir, hingga pertanyaan remeh seperti, “Ini gak ada subtitlenya, ya?” Buat yang perempuan tergelak, sebelum berganti peran menjadi penerjemah dadakan.

Keduanya menikmati pertunjukan dalam tempo serupa. Dua pasang mata yang memindai panggung dan manik mereka secara bergantian. Mendengarkan dialog yang selalu diikuti selentingan kecil.

Berdecak kagum. Menautkan alis. Tertawa lebar. Mengerutkan dahi. Lalu kembali terpana ketika lagu Taylor Swift berjudul Labyrinth mulai mengalun merdu, tepat di adegan sepasang teman yang akhirnya bertemu di bandara.

It only hurts this much right now

Was what I was thinking the whole time

Pemeran lelaki berbicara dalam tatapan sendunya sambil terus melipat jarak dengan puan di ujung sana.

Breathe in, breathe through

Breathe deep, breathe out

I’ll be getting over you my whole life

Buat tokoh perempuan mengatur napas, seraya meletakkan satu tangan di dada kiri. Seolah menenangkan degupnya yang menggila.

You know how scared I am of elevators

Never trust it if it rises fast

It can’t last

Kali ini yang lelaki menggelengkan kepalanya. Lemah. Seperti tak berdaya malah. Sekon kemudian, tangannya mulai terulur untuk menggenggam sang dara.

Uh oh, I’m falling in love

Mereka bertatapan. Tangan kekar itu mulai turun ke pinggang puan, dengan milik perempuan yang bersandar di dada tuan.

Oh no, I’m falling in love again

Keduanya tersenyum. Lebar sekali. Hingga lebar itu mengecil dengan dua kepala yang mulai mendekat.

Oh, I’m falling in love

I thought the plane was going down

How’d you turn it right around

Lalu ada adegan ilusi seakan-akan mereka berciuman. Sebelum sepasang itu memundurkan tubuh hanya untuk berdansa. Menari bersama dalam ketukan cinta yang senada dengan detak jantung mereka.

Semuanya adegan romantis itu ditonton dengan seksama oleh banyak massa. Termasuk, yang perempuan. Namun, yang semuanya itu tidak termasuk satu orang.

Adalah Michael Kaiser yang tidak menyaksikan apa yang ada di panggung, melainkan raut wajah perempuan di sampingnya dengan seksama. Dengan debar yang terus menggila setiap detiknya.

Uh oh, I’m falling in love

Oh no, I’m falling in love again

Oh, I’m falling in love

Satu bait itu terus berputar di kepala Kaiser tatkala mata birunya mengunci pergerakan puan dalam diamnya. Hingga dalam gerakan cepat, yang perempuan memutar kepalanya ke arah Kaiser. Buat lelaki tinggi itu mengalihkan pandangan ke arah panggung dengan cepat.

“Kamu kenapa, Kai?”

Kaiser menggeleng cepat mendengar pertanyaan lembut itu. “Gak apa, kok.”

“Kamu sakit?”

Lagi-lagi Kaiser menggeleng.

“Habis ini aku pulang, ya?” Tanya Kaiser balik. Buat yang perempuan mengatupkan bibir diikuti anggukan kepala.

“Nanti aku antar ke parkiran, deh.”

Kali ini, Kaiser terdiam. Kedua tangannya mulai mengepal seraya memikirkan satu jawaban yang terus bertabrakan dengan banyak keinginan di kepalanya. Berikutnya, terdengar hembusan kasar yang panjang.

“Sebelum pulang,” Kaiser berdeham. “Kita boleh foto bareng, gak?” Tanyanya sambil melirik lawan bicaranya malu-malu.

Yang perempuan tersenyum lembut. Keberanian lelaki kembali menciut.

“Boleh, dong! Atau mau foto sekarang aja?”

Maka, bisa apa Kaiser selain menganggukkan kepalanya dengan debaran yang meresonansikan gelombang cinta untuk penguasa hatinya yang baru?

Comments

  1. 💗💗💗💗💫💫💫💫💫

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi