Sang Angkara

Adalah Arunika benar paham bagaimana dunia Anala bekerja. Pemuda itu selalu mendamba surga dalam bentuk perangai seorang manusia. Ia akan berdansa dengan yang lain, dan bukan dirinya. Arunika tak pernah jadi pilihan. Dan saat hatinya patah, Anala akan kembali kepadanya. Memeluknya, menumpahkan cinta yang tiada habisnya. Hingga cinta baru bermekaran, kemudian mengulang lagi sebuah angkara cinta. 

Amat menyedihkan. Benar bahwasannya si manusia jingga adalah malaikat bagi yang Angkuli. Kehadirannya akan diabaikan kecuali bila mereka butuh sesuatu dari dirinya. 

Arunika-nya tahu bagaimana ia mahir bermain dengan hati. Tak habis berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Tapi entah si manusia jingga tetap menemuinya meskipun pulang dengan hati yang sama patahnya. Tak gentar, tetap meladeninya yang begitu tamak tak ada habisnya.

Begitulah cinta mereka. Seperti merebak langit abu-abu. Jalan yang tak bersimpangan, boleh jadi timpang sebelah. Si manusia jingga diam-diam menyimpan cinta, jatuh dungu untuk sang Angkuli. Namun tak berlaku sebaliknya. Anala tak pernah melihatnya dengan romansa yang sama.

Meskipun pada akhirnya berakhir seperti ini. Meskipun pada akhirnya ia kembali pada Arunika-nya lagi dan lagi. 

Anala mendekat kemudian memeluk Arunika-nya dari belakang. Menenggelamkan wajah pada ceruk yang pualam. Merengkuh hangatnya, mendekap cantiknya. Menumpahkan cintanya yang banyak pada satu raga. Berharap lukanya menutup tak lagi menganga. Berharap segala beban kini menghilang. 

"Tuan? Kau kena — "

"— begini dulu, Aru" Anala memotong cepat. Ia mendekap si manusia jingga lebih erat. Rasa-rasanya tak rela ia bagi ke dunia. "Begini dulu. Sebentar saja." 

Barangkali Anala adalah sang nahkoda, dan Arunika adalah pulau yang ia tinggalkan.
Ia tak pernah berlabuh, justru hanya singgah. Namun kali ini ia lelah. Lelah dengan cinta yang gagal berulang-ulang. Pada akhirnya memutuskan untuk tinggal. Kembali kepada swargalokanya. Karena tahu Arunika pasti selalu di sana. Raganya ada. Nyata untuknya.

Dan Arunika benar memberinya rasa dan asa yang tiada dua. Lihatlah bagaimana kini ia mengelus surainya penuh sayang. Menepuk-nepuk tangan besarnya yang melingkar pada tubuh kecil si manusia jingga. Kemudian berbisik halus penuh cinta. "Tak masalah. Tuan bisa begini selama yang tuan mau." 

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Anala merasakan debar tak andai pada hatinya. Begitu nyaman rasanya saat Arunika ada dalam peluknya. Sungguh enggan ia lepas. Berharap malaikat di angkasa raya akan berbaik hati untuk memperpanjang waktunya. Biarkan ia mendayu lebih lama.

Ah, barangkali di sinilah awal mula angkara sebuah cerita. Dimana malaikat di angkasa raya ikut pilu nian lelah. Melihat hambanya yang jatuh larut dalam angan. Pada akhirnya mengutuk sang Angkuli dengan cara paling manis yang pernah ia rasa.

Sang kelam bertanya dan sang jingga mengangguk pula tertawa. Ciptakan hangat dan kepak sayap pada perutnya. Astaga, perasaan macam apa ini? Debar macam apa ini? Bagaimana bisa sebuah tawa dapat begitu memabukkan seperti ini?

Adalah Anala kini tertegun meyadari bagaimana Arunika di hadapannya begitu bercahaya hanya dengan diterangi lampu temaram dini hari. Dengan maniknya yang hilang ditelan kelopak kala tertawa. Bilah bibirnya yang dipoles warna merah jambu berkilau menarik untuk dicumbu. Dan harum kulitnya melapis wangi manis sebuah madu.

Cantik. 

Cantik.

Arunika cantiknya bukan main.

Celaka. Sempurna terpuntirlah kini cerita sang Angkuli dan si manusia jingga.

"Arunika..." Anala memutar tubuh Arunika hingga manik keduanya bersitatap. Jarak mereka begitu dekat, buat jantungnya berdebar tak longgar kala lembayung jingga di hadapannya lahap sepasang manik madu miliknya. Begitu lekat, justru mengambil semua sadarnya hingga tenggelam jatuh dalam sebuah jelaga. Buai angan bahwasannya si manusia jingga adalah jawaban dari lelah yang ia cari. Bahwasannya Arunika selama ini adalah surga yang ia nanti.

Untuk pertama kalinya ia merasakan cinta yang besar memancar dari satu raga.

Setelah jatuh berkali-kali, setelah mengarungi cinta yang gagal lagi dan lagi, Anala akhirnya dapat merasakan bagaimana dirinya dapati cinta yang luar biasa memabukkan dari kecil seorang manusia. Seorang perempuan yang selama ini justru selalu bersamanya. Seseorang yang selalu bersamanya melewati banyak patah hati dalam hidupnya. Seseorang yang jingga. Arunika namanya. 

Lelah setelah patah yang berulang-ulang, ia amat yakin bahwa Arunika-lah yang selama ini ia cari. Arunika adalah sepotong hatinya. Cintanya. Si malaikat penyembuh lara. Pemulih duka.

Duhai, tak akan ia biarkan semesta merampas Arunika darinya. 

Anala benar amat bersungguh-sungguh perihal kepemilikan.

"Tuan — ?" 

"Saya menginginkanmu, Arunika." Anala memotong cepat. Nafasnya menderu dengan suara kian pilu. "Saya menginginkanmu" bisiknya pelan. "Arunika. Arunika sayangku."

Apabila kau dapat mengintip bersama bintang-bintang di angkasa raya, niscaya kau akan lihat bagaimana setan berjinjit kini berbisik di telinga yang hitam.

Lihatlah bagaimana Anala kini amat mendamba hingga hilang jua warasnya. Terbuai dalam surga dunia berbentuk tubuh Arunika yang sempurna ia dekap di sana.

Anala sungguh meraup setiap gerak-gerik manusia ayu dengan netranya, begitu rakus hingga tak terlewat satu detik-pun. Anala bersumpah ia baru saja melihat sepuluh ribu bintang di langit dalam sepasang bola mata. Demi Dewa-Dewi di surga! Sudahkah ia bercerita tentang ranumnya? Yang merah muda di sana tak kalah berkilau amat menggoda. Bohong jika seluruh makhluk yang berpijak di bumi tak tergoda oleh dua bilah bibir mungilnya.

Benar bahawasannya Arunika adalah surga yang selama ini ia damba di dunia. Begitu percaya Tuhan menurunkan Arunika sebagai penyembuh lukanya. Penyelamatnya dari duka yang tak berujung. Lihatlah! Bersama Arunika segalanya terlihat jelas, terang benderang. Kupu-kupu kembali berkepak. Lukanya kembali sembuh dengan sempurna. Arunika benar berikan ia nikmat tak terkira. Hingga ia jatuh ke dalam andai bahwasannya ada cinta untuk dirinya.
Namun celaka, kisah ini bukan tentang bagaimana Malaikat di angkasa raya sedang berbaik hati kepada hambanya. Yang di atas sana sedang mengutuk sang Angkuli dengan cara paling manis yang pernah ia rasa.
Maka ketika sembahyang selesai di gaung, tuntas pula segala urusan. 

"Arunika, tolong — " suaranya pilu menyebut nama yang ayu di hadapannya. "Cuma kamu yang bisa buat saya merasa utuh jadi manusia. Cuma kamu yang bisa buat saya hidup."

Tersenyum singkat, Arunika balas memandangnya. "Bukan tugas saya untuk membuat Tuan merasa menjadi seutuh-utuhnya manusia." 

Anala benar lelah. Lelah mengais mencari bahasa untuk dituturkan demi menarik hatinya. Andaikan ia mampu mengganti sesaknya dengan kata, barangkali ia akan ukir bagai aksara. Agar Malaikat di angkasa raya tahu bahwa ia bersungguh-sungguh dalam perihal mencinta. "Saya benar-benar mencintaimu, Arunika" katanya tercekat. "Saya mencintaimu Arunika. Saya mau kamu menjadi milik saya." 

Si manusia jingga tertawa.

"Cinta itu abadi, Tuan. Dan saya tidak."

"Aru — "

" — Tuan bisa panggil saya lagi kalau Tuan butuh" sang jingga berbalik melangkah menjauihi sang hitam.

Perempuan itu pergi begitu saja tanpa menyentuhnya lagi.

Anala mengira dirinya adalah yang adikuasa. Mengira kupu-kupu itu tetap berkepak untuk dirinya. Mengira segala debar hanya dicipta untuknya. Terbuai dengan andai bahwasannya cinta si manusia jingga abadi nian kekal.

Namun Arunika-nya telah mati, kemudian ia gagal.

Gagal merebut Arunika-nya kembali pulang.

Comments

  1. never fail! blogspot sharusnya adain fitur like g sih, mau kulike sejuta kali. ♥️🌹

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Riwayat si Tuan dan si Puan

 Selamat tinggal, Bentala.