Yang bersisian
Michael Kaiser bukan jenis manusia yang lihai menguraikan perasaannya. Kaiser tahu dan Kaiser sadar.
Tetapi, ketidakmampuannya membawa petaka. Atau seperti itu pikirnya.
Berbicara tentang perasaan, akan beririsan dengan ketiadaan. Ini yang ditanamkan keluarga Kaiser sejak kelahirannya. Karena hal ini pula, perasaan adalah hal asing yang terasa jauh sekali. Sekalipun letaknya sedekat nadi.
Kaiser menaruh seluruh cintanya untuk perempuannya. Seluruhnya. Dengan begitu utuh tanpa adanya rumpang dan kosong di antaranya.
Namun, Kaiser selalu lupa. Berbicara tentang cinta, akan bersisian dengan perasaan lain atas kausa yang sama; cinta. Kaiser selalu lupa. Sampai perasaan tersebut membenturkan warasnya. Cemburu, salah satunya. Rasa rendah diri, berikutnya.
Celakanya adalah, Kaiser tidak mengerti bagaimana meregulasi perasaan-perasaan tersebut.
Apakah diam saja atau berterus-terang?
Apakah menjelaskan atau menimbun di kepala?
Pilihan ini berdiri di persimpangan. Sementara kebimbangan membawanya dalam tabrakan atas ketidakhati-hatian putusan.
Di satu sisi, perempuannya adalah keterbalikan dari Kaiser—tentang perasaan. Nyonya—begitu Kaiser memanggilnya—adalah perwujudan dari buku terbuka; yang gemar Kaiser baca. Nyonya adalah perwujudan atas ketidakmampuan Kaiser dalam mendefinisikan fraksi perasaan. Nyonya adalah segala yang Kaiser cari atas kurangnya. Yang selalu Kaiser usahakan untuk lebihnya.
Meski gagal.
Perempuan itu cepat-cepat berdiri. Posisinya jelas sekali ingin kabur dari hadapan lelaki. Namun, Kaiser lebih cepat. Satu tangan perempuan segera digenggam Kaiser pelan. Buat yang perempuan kian meringis dengan sisa-sisa linear merah mudah di kedua pipi.
“Kenapa lagi, Kai? Aku mau gabung sama—”
“Makasih.”
Kedua pasang mata itu kembali bertatapan. Melihat itu, Kaiser kembali meneruskan perkataannya yang masih tertinggal di kepala.
“Makasih udah maafin aku. Makasih. Makasih, ya?”
Menurut orang tuanya Michael Kaiser, berbicara tentang perasaan selalu beririsan dengan ketiadaan. Menipiskan yang timbul. Menghilangkan yang ada. Melupakan yang banyak. Namun, jika kausa perasaan akan bermuara ke perempuannya; perempuan dalam genggamannya. Untuk segala ketiadaan yang terpaksa dibiasakan, Michael Kaiser akan memilih percaya pada keniscayaan.
Sebab, wujudnya adalah tentu, pasti, dan kembali lagi ke satu nama.
Sebab—
“Sama-sama, Kai. Makasih juga udah segera kelarin masalah ini, ya?”
Wujudnya ialah, sayang.

Comments
Post a Comment