Hope


Ada tujuh ribu bahasa di dunia dan akan kusampaikan perasaanku untukmu di tiapnya. Agar kamu tahu kamu dicintai. Agar kamu tahu, kamu layak diterima apa adanya.

Katamu, menjadi biasa-biasa saja adalah kejahatan luar biasa yang tidak diterima manusia.

Bumantara, sayangku. Bukanlah kejahatan untukmu karena itu. Bukanlah kegagalan bagimu karena menjadi segala yang cukup.

Namun, bencana untuk mereka yang memvonis tanpa kenal ampun. Seolah-olah menjadi biasa adalah aib yang harus ditimbun.

Bumantara, nanti kita akan lomba lari.
Aku akan berlari pelan dan kamu kencang. Nanti kamu kegirangan dan aku tersenyum lebar. Tenang saja, Bumantara. Tidak ada yang melayangkan tawa hina maupun caci maki di sini. Kamu bebas menjadi apa saja yang kamu mau. Kamu berhak menjadi segala yang kamu butuh. Sebab, tidak ada yang menghakimi atau mengkerdilkan kamu di sini.

Bumantara, ada doa yang diselipkan Ibumu selama sembilan bulan penuh di kandungan; tumbuhlah dengan utuh.
Kamu mengamininya dengan hentakan kaki, kencang sekali sampai Ibumu mengaduh beberapa kali. Alih-alih menghakimi, Ibumu mengelus perutnya lembut. Menghantarkan sayangnya melalui sesuatu yang lamanya adalah sepanjang masa; kasih ibu.

Karenanya aku berharap, semoga kamu tahu kalau kamu selalu dikelilingi cinta yang lembut. Cinta yang tak mengenal syarat hanya untuk mencintaimu penuh. 

Jadi, Bumantara. Kejar segalanya yang kamu mau, ya?

Kalau kakimu sudah lelah berlari, berhenti sejenak tak akan buatmu mati. 

Tapi Bumantara, kalau dunia jahat satu kali lagi. Aku hancurkan dunia demi kamu, ya?

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi