Esok Lusa
Mari kita sama-sama merayakan cemburu yang menggebu. Hingga lalai akan waktu, dan lupa bahwa hidup tak tentang si Puan selalu.
Apabila kau penasaran bagaimana rupa kerlip cahaya saat malam, barangkali manik jingga Arunika bisa jadi jawabannya. Lembayung bercahaya, amat bercahaya. Lebih benderang dari pada lampu-lampu di lapangan terbang.
Bumantara bersumpah ia baru saja melihat sepuluh ribu bintang di langit dalam sepasang bola mata. Yang kini menatapnya lekat, mengambil segala sadarnya. Hingga lalai bahwasannya elok yang ia damba tak akan jadi miliknya. Karena malam itu Arunika hanya dipinjamkan untuknya.
Barangkali inilah kali terakhir ia dapat melihat bagaimana pengantin ayunya mengalun tawa karenanya. Karena kala fajar esok lusa, kekasihnya akan mulai dicuri sang pangeran untuk memulai bahagia baru sampai tua.
Sungguh benar bahwasannya pengantin itu telak bukan miliknya. Bahwasannya tubuh itu bukan sempurna berakhir dalam genggamnya. Bahwasannya hati itu tak lagi berlabuh kepadanya. Adalah Bumantara kini sempurna terbelah hatinya. Mengira Arunika telak diciptakan hanya untuknya, alih-alih semesta memuntir cerita ke arah yang lebih menyakitkan.
Ah, inikah rasanya berandai tapi tak mampu?
"Saya ingin membawamu pergi. Besok lusa saya ingin membawamu pergi. Ke tempat yang jauh. Ke tempat yang orang-orang tidak tahu. Tempat dimana kita tidak perlu sembunyi-sembunyi."
Netra keduanya bersitatap. Yang madu melahap jingga di hadapannya. Menitik kilau ayunya banyak-banyak. Melahap rakus dari ujung kepala hingga tungkai yang sedang duduk bersandar.
Ah, lihatlah. Tuhan benar mahir menggoda hambanya. Turunkan kepadanya cantik seorang manusia. Dapat ia sentuh, dapat ia rengkuh. Membiarkan dirinya bertahun-tahun melantun nian mendayu cinta tiada habisnya. Bertaut jari, berucap janji masa depan cemerlang. Cipta andai akan segala hal tentang eloknya dapat ia petik dan ia simpan untuk sendiri dirinya.
Namun esok lusa yang cantik telak di curi oleh sang pangeran. Dan hilang sudah segala mimpi dan janji-janji mereka.
Sungguh, Bumantara tak ingin menyakiti dirinya sendiri. Mati-matian ia menahan air mata tumpah. Dadanya begitu sesak, perih melanda sampai ke kepala. Berharap mulutnya sendiri berhenti bicara. Atau sebaliknya, berharap barangkali ada malaikat di angkasa raya yang sedang asyik mengitari langit dan mendengar doanya. Namun, apakah ia kini hanya mampu berandai seperti ini. Selagi Arunika-nya masih disini, dan belum sempurna di curi.
Mungkin di dunia yang lain, di hidup yang lain, ia dapat berbahagia bersama Arunika. Menikahinya hingga tua kemudian kematian menggandeng mereka berdua.
Namun tidak sekarang, tidak di sini. Tidak di semesta yang ini.
Demi dewa dewi di angkasa, ia benar mencintai kekasihnya di sana. Amat mencintainya. Berharap janji-janji kala remaja berakhir abadi nian kekal.
Barangkali kau dapat mengintip bagaimana bintang-bintang di angkasa raya kini ikut riuh menahan sesak. Melihat bagaimana kisah dua anak adam dan hawa di bawah sana kini sempurna berpilin menyakitkan. Tentang cinta yang terlambat, amat terlambat. Tentang cinta terpuntir bukan oleh hati, namun dengan tangan manusia.
Pias Arunika di bawah sana menggigit bibir, meremat ujung bajunya. Tak tahu benar apa yang ia lakukan. Bagaimanalah ia akan menikahi seseorang esok lusa namun hatinya tetap bersemayam untuk pemuda yang kini duduk di sebelahnya.
Semesta memang punya magis tiada dua, berikan ia banyak nikmat, pula banyak pilihan. Namun, Bumantara tak ada di antaranya.
Barangkali ada suatu keajaiban dimana kau dilahirkan kembali kemudian kau menemukan dirimu jatuh cinta lagi, tolong carilah aku.
Dan jatuh cintalah lagi kepadaku—

Comments
Post a Comment