Karena bersamanya adalah mungkin.


Dari dulu, saya gak pernah mengerti bagaimana perasaan itu bekerja. Terlalu kompleks. Terlalu banyak variabelnya. Tidak absolut. Tak terukur. Saya benci sesuatu yang gak bisa diukur. Karena, saya gak bisa mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi. Baik dan buruknya.

Kalau ditarik garis lurus, penyebab utamanya adalah orang tua saya yang maha sibuk itu. Saya pikir, kalau mendapatkan nilai 100 di semua pelajaran, akan membuat Papa dan Mama datang untuk mengambil rapor. Ternyata tidak. Saya sempat berpikir, kalau berkelahi dengan kakak kelas akan buat keduanya hadir lalu mengkhawatirkan lebam dan luka di seluruh muka. Ternyata tidak. Saya juga pernah berpikir, kalau sakit hingga dirawat inap akan buat orang tua saya meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ternyata tidak.

Sampai saya memutuskan untuk tidak melakukan apapun demi meraih hadir mereka. Segala percobaan sudah saya coba, ternyata hasilnya adalah sia-sia. Jadi, untuk apa?

Orang tua saya itu, darahnya paling pekat dengan saya. Tetapi, presensinya adalah yang paling konsisten dalam memperlebar sekat. Benar-benar asing. Perannya hanya formalitas. Saya cuma merasakan eksistensi mereka lewat pundi-pundi uang. Setidaknya, ada satu hal yang buat mereka unggul.

Kalau manusia diukur dari kelihaiannya memahami perasaan manusia lainnya. Peringkat saya sudah pasti berada di papan bawah. Karena saya kepayahan mengertinya.

Jadi, ketika perempuan ini bilang, “Merawat tanaman itu sama seperti merawat manusia. Kalau tulus menyayangi, maka ia pun akan membalas kebaikannya dengan cara yang sama.”

Saya terdiam waktu itu. Sejujurnya, saya skeptis luar biasa. Karena, ayolah! Tidak mungkin hasilnya akan begitu mudah. Matematika dunia tidak sesederhana, 1+1= 2. Kalau formulanya demikian, seluruh manusia akan bahagia tanpa terkecuali.

Kalau rumusnya seperti itu, saya gak akan mengenal kesepian.

Namun, ada sesuatu dari caranya berbicara yang buat saya penasaran. Saya gak mengerti awalnya. Tetapi, dari satu obrolan yang berlanjut jadi tiga. Atau pertemuan pertama yang berubah menjadi banyak. Dari permintaan sederhana menjadi tamak. Buat saya tersadar satu hal; konsep perasaan tidak sesulit yang saya bayangkan. Variabelnya terukur. Hasilnya adalah absolut yang menempati perasaan. Yang menetap di hati saya.

Mungkin, ada magis dari caranya berbicara. Atau dari matanya yang berbinar. Atau ketika senyumnya merekah. Atau sewaktu dirinya berbicara ke kakek dan neneknya. Atau saat dirinya berjalan riang. Atau selagi mengeluhkan tugasnya yang menumpuk. Atau tatkala dia menjadi dia. Yang apa adanya. Yang hanya menjadi dirinya. Yang teramat—cantik.

Dari keseluruhan perasaan yang hadir, saya paling tidak suka ketika dia marah dan menjauh dari saya. Rasanya, apa, ya? Takut. Saya takut luar biasa. Saya sempat berpikir, apa saya akan merasakan kesepian lagi seperti yang sudah-sudah, ya?

Cuma, agaknya probabilitas kesialan lagi bertemu nihil. Jadi, porsi keberuntungan itu mencapai penuh. Sebab, saya dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih mendukung kita. Saya dan perempuan — yang tengah berjalan mendekati gazebo rumahnya — ini.

Sorry lama. Tadi aku buat lemonade dulu. Nih!” Katanya sambil menyodorkan minuman dingin itu; sebelum duduk di sebelah kanan. Kita berdua sama-sama meneguk minuman masing-masing. Setelahnya, terdapat jeda berupa diam sepanjang lima detik. Sampai, dia akhirnya bersuara.

“Maaf udah ngerepotin kamu lagi, Jo.”

Saya melirik sebentar ke sebelah kanan. “Kamu kenapa suka minta maaf? ‘Kan, itu bukan kesalahan. Saya juga gak pernah merasa direpotkan. Santai saja.”

Perempuan ini tersenyum lirih. Sekon selanjutnya dia menghembuskan napas dengan keras. “Iya, ya? Kenapa gitu, deh? Apa karena aku merasa menjadi sumber masalah, ya?”

Tangan saya bergerak lebih cepat dibanding suara. Nyaris seperti refleks, tangan saya sudah bertengger di puncak kepalanya. Mengusak rambutnya ringan sebelum membalas, “Bagi saya, kamu bukan masalah. Kamu gak pernah jadi masalah.”

Tak ada sahutan setelahnya. Dia hanya menoleh singkat dan mengulas senyum tipis sebelum menganggukkan kepala. Entah untuk apa. Barangkali menyetujui perkataan saya. Namun, senyum itu mengaburkan pikiran, Benar-benar mengaburkan rasionalitas saya.

“Tahu, gak? Waktu pertama kali ke sini, saya kaget dengan perlakuan kakek ke saya,” terdengar kekehan dari perempuan ini. “Tapi, saya lebih kaget dengan perlakuan kakek ke nenek. Setiap beberapa waktu, kakek akan ciumin pelipis nenek. Cara kakek ngusap rambut nenek. Cara kakek berbicara. Cara kakek menunggu. Cara kakek mengingat nenek. Dan matanya,” saya menatap lembut perempuan. “Saya skeptis tentang perasaan. Tapi, saya pun tahu, kalau itu tatapan sayang.”

Dia memutus kontak mata lebih dulu. Alhasil, saya turut melakukan hal serupa.

“Kakek dan nenek,” saya menggelengkan kepala. “Nggak. Rumah ini. Seluruh yang ada di rumah ini, buat saya gak skeptis lagi akan perasaan,” saya mengusap tengkuk secara acak.

“Saya senang ke rumah ini. Saya suka dengan penghuninya. Saya suka kamu.”

Ucap saya akhirnya. Saya terdiam sejenak untuk menetralkan detak jantung, sekaligus, suhu tubuh yang terasa lebih panas dari biasanya. Sekon selanjutnya, saya menoleh ke arah perempuan ini dengan takut-takut. Ternyata, dia tengah menatap saya dalam diam. Di saat itu juga, wajah saya kian memanas.

“Tapi aku banyak kurangnya, Jo.”

Mendengar itu saya refleks tersenyum lembut. “Saya pun juga.”

“APA-APAAN!” Teriaknya tiba-tiba. Sedetik kemudian, dia kembali melanjutkan dengan menggerutu. “Kamu tuh pintar! Tinggi! Bisa diandalkan! Ganteng lagi!”

Saya mengerjapkan kedua mata berulang kali. Berusaha mengkomputasi perkataannya. Begitupun dia yang melakukan hal serupa. Setelah sama-sama mencapai tahap selesai, kita berpandangan. Lalu, sepersekian detik berikutnya, wajahnya mulai memerah seraya mengaduh malu. Saya hanya tersenyum tertahan setelahnya.

Thanks, I guess?” Goda saya sambil memiringkan kepala. Alhasil, dia hanya mendelik sebal. Tetapi, setelah menenangkan dirinya dan meneguk sisa minuman. Perempuan ini kembali bersuara sambil memainkan jari-jarinya.

Still, Jo. Bukannya keadaan aku cukup sulit, ya, untuk kita, you know, dating and stuff?

Something just can’t be fixed. Just be there. Saya mau ada di hidup kamu. Saya mau di sana. Di dekat kamu.”

Pandangan kita kembali bertemu. Entah kenapa, saya ingin sekali membicarakan ini. “Lagian, kamu masih punya janji 10 tahun sama saya, ’kan?”

Berhasil. Dia tengah tertawa keras sekarang. Tertawa seperti pertama kali kita bertemu di perpustakaan siang itu. Tertawa dengan lepasnya. Dengan bahagianya. Tertawa yang selalu buat dada saya merasa penuh.

“Jadi, kamu mau jadi pacar aku, nih?” Pertanyaan konyolnya buat saya mendengus geli. Karena, seharusnya saya yang mengucapkan hal itu. Tetapi, saya tetap membalas perkataannya dengan menatap sungguh.

“Iya. Mau. Saya mau kamu.”

Dari jarak sedekat ini, saya bisa melihat rona merah muda yang kembali muncul di wajahnya. Senyum saya kembali merekah melihat ini. Sekon berikutnya, dia kembali berujar.

“Jangan nyesel, ya! Soalnya aku mau bilang ‘iya’, nih!”

Saya mengangguk diikuti degup yang kian kencang. Di saat yang bersamaan, perut saya merasakan sensasi geli yang menyenangkan.

“Iya” dia menghela napas dahulu. “Iya, mau. Aku juga mau kamu.”

Dalam bahagia yang menjadi milik berdua. Saya menariknya dalam sebuah rengkuh. Sebuah pelukan lembut yang diikuti usapan singkat di pundak. Tak ada yang berbicara di antara dekapan hangat. Barangkali, kita tengah sibuk menguraikan detak jantung yang sama-sama menggila. Atau sesederhana, merasakan perasaan yang akhirnya tersampaikan. Yang jelas, kesemuanya membuat saya berbisik sesuatu sebelum memeluknya semakin erat.

“Makasih banyak, love.”

Saya masih tidak tahu bagaimana persisnya perasaan itu bekerja. Wujudnya masih terlalu kompleks. Variabelnya masih luar biasa banyak. Ketetapannya masih tidak absolut. Dan satuannya masih sulit terukur. 

Namun, jika menyangkut perempuan ini, Saya akan mempertaruhkan segalanya untuk mencari segala yang tidak mungkin.

Karena bersamanya adalah mungkin. Karena bersamanya adalah tetap. Karena bersamanya adalah seada-adanya ia. Karena bersamanya adalah; bahagia—

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi