Kaleidoscopes
"Bagaimana manusia memaknai sebuah perpisahan?"
Salah satu temanku pernah berkata begini :
"Menurut gue, mau di pertahankan sekuat apa pun, yang namanya perpisahan pasti terjadi karena setiap orang itu punya masa-nya."
Aku pun ditelan bingung sesaat setelah mendengarnya berujar begitu. Konsep dasar dari 'setiap orang punya masa-nya' berotasi lama di benakku dengan tanda tanya besar.
Mengapa durasi manusia yang singgah di hidup kita memiliki tenggat waktu yang telah ditentukan?
Pertanyaan tersebut terus menggema dalam kepala, tak tahu harus kemana untuk menjawab. Sampai tiga tahun selanjutnya, aku menemukan jawaban dari pertanyaan itu selepas aku melihatnya kembali.
Angin malam bertaut dengan luka lama yang belum pulih. Kemudian, ombak pasang menghapus sisa puing 'rumahku' yang mulai runtuh bersama dengan harapan kecil yang aku simpan. Yang mungkin, mungkin saja, ada kemungkinan kecil, aku dan dia bisa berada dalam satu kapal lagi. Lalu, aku akan duduk di bawah rembulan yang tengah menimang bintang, menyaksikan bagaimana harapan kecil yang aku bawa itu bermanifestasi menjadi bunga fana. Mereka hanyut bersama laut.
Dari situ lah awal mula aku berhipotesis bahwa sebuah perpisahan dapat menjelma menjadi loka lara penuh kecewa. Tapi aku akan merevisi sedikit hipotesis awalku mengenai judul utama kali ini.
Perihal perpisahan—tak selamanya memiliki akhir buruk. Perpisahan ini aku rayakan dengan penuh rela sebagaimana mestinya sebuah cerita harus berakhir. Mungkin akhir cerita ini jauh dari yang aku harapkan di awal, dan itu tak mengapa. Karena bagiku, menulis cerita yang pernah tereja sudah lebih dari cukup.
Kepada Tuan yang di sana—aku ucapkan banyak terima kasih atas kehadiranmu dalam hidupku. Walau pada akhirnya tak bersama, akan kurayakan dengan sorai gembira.

Comments
Post a Comment