Ketidakteraturan yang ditunggu

"Kenapa, Kai?"

Gue sedikit tersentak mendengar sapaan dari sebelah kiri; seorang perempuan yang menjadi tersangka atas keadaan gue belakangan ini. Yang terdiam dan melamun. Lalu menjadi senang menggebu.

Ditutup dengan mengkalkulasikan perasaan menjadi deret angka yang tak teratur.          Sebab, logika itu hilang entah kemana kalau menyangkut perempuan di samping.

"Gak kenapa-kenapa. Kamu jadi narik uang?" Tanya gue mengalihkan.

Dia menganggukan kepala. "Jadi! Aku tinggal bentar, ya! Antriannya agak panjang, sih. Tuh, lihat!" Gue melongok mengikuti arah telunjuknya. Beneran panjang ternyata.

"Nanti kalau udah selesai, aku langsung ke sini, ya, Kai!"

"Oke," sahut gue ringan.

Sedetik kemudian, terdengar bunyi pintu terbuka lalu tertutup setelahnya. Bersamaan dengan itu, ingatan gue melayang ke langit-langit masa lalu.

Satu hal yang paling gak gue suka tentang teori hereditas adalah, bagaimana genetika dari keturunan di atas lo, akan turun lalu melekat dan menetap ke inti hingga tepi tubuh, sampai lo punah. Bukan mati. Tetapi, punah. Jejak lo akan benar-benar hilang kalau lo punah dari muka bumi ini.

Gue gak suka becermin. Karena bayangan tersebut bukan hanya mematut diri sendiri. Tetapi, seluruh gen dari keluarga yang didominasi kedua orang tua gue. Tentang fisik, perangai, bahkan kebiasaan.

Pelarian gue bisa berupa apapun, selain rumah. Mengikuti organisasi salah satunya. Berkumpul bersama dua teman dekat berikutnya. Dan belakangan, menghabiskan waktu bersama perempuan manis ini, menjadi yang paling gue suka.

Kalau boleh jujur, gue paling sangsi merasakan perasaan lembut begini. Gue merasa gak pantas dicintai. Gue aja gak suka diri sendiri. Bagaimana mau menyukai orang lain?

Lalu, ketika gue mencoba untuk memperbaiki hubungan profesionalitas gue —sebagai sesama anggota kepengurusan— perasaan itu masuk ke ruang hati tanpa permisi. Dengan cara yang paling halus dan tak pernah gue duga polanya. Kuncinya tak pernah gue pegang. Karena barangkali, kuncinya adalah presensinya secara utuh.

Gue suka caranya yang selalu mau belajar. Yang gak mudah menyerah. Yang kalaupun mengeluh, selalu menemukan solusi setelahnya. Benar-benar pekerja keras.          Gue suka ketika dia menjelaskan tentang anime kesukaannya, tentang cowo k-popnya. Atau tentang F1, yang katanya, si Charles Charles itu lagi di Bali. Gue juga suka ketika dia mendengarkan. Tentang buku yang baru gue beli dua hari lalu. Tentang proker yang masih berjalan. Tentang kacamata gue yang harus diganti. Semuanya. Gue suka semuanya.

Namun, kalau harus memilih satu hal. Gue akan menjawab; senyumnya. Gue selalu terusik melihat senyum lebarnya. Karena, gue menjadi tidak berkutik setelahnya.

Menyebalkan, sekaligus, mendebarkan.

Ness pernah bilang, salah satu cara untuk membujuk dia adalah dengan mengambil hatinya.                                                         

Agaknya, hati gue yang diambil secara cuma-cuma olehnya. Oleh perempuan yang hadirnya tak pernah gue sangka.

Seperti ketidakteraturan yang menyusup di antara hidup gue yang tertata.            Inkonsistensi yang tak mengganggu.          Anomali yang diam-diam; gue tunggu.

Siapa sangka kata-kata seperti, aku lihat ini jadi ingat kamu, menjadi hal yang buat gue terdiam cukup lama. Bukan sekali, dua atau tiga, tapi, banyak. Dan mau kali pertama atau kesekian, rasanya masih sama. Masih menyenangkan.

Dan hari ini, gue kembali melihat dia. Dan jawaban gue masih sama seperti yang sudah-sudah; gue masih ingin bersamanya.

Untuk bersisian dengannya.

Sebab, dia adalah anomali yang gue tunggu. Ketidakteraturan yang menjadi candu. Dan gue mau dia ada di dalamnya—selalu.

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi