ETERNITY

"I'll love you till the blue rose forget to bloom, Kai. To the end of eternity."


Aku mengasosiasikan semua yang berwarna biru dengan kamu. 

Seperti jersey futsal punyamu ketika SMA, pulpen kenko yang kamu pakai, gantungan kunci yang kamu kasih, buket bunga saat perayaan tahun lalu, botol mineral yang kerap diberi, kotak pensil yang dibeli bersama, lukisan The Starry Night karya Van Gogh, atau, seperti... warna mata kamu. 

Sewaktu kelas 2 SMA kamu pernah bertanya, "Kenapa barang-barang kamu hampir semuanya warna biru?" Aku hanya mengalihkan tanpa memberikan jawaban yang berarti; untungnya tak kamu permasalahkan.

Lalu, ketika dua mataku terus memperhatikan ombak yang menyapu pelan, kamu berujar lugas, "Kamu kayaknya suka banget dengan pantai, ya."

Aku terkekeh mendengarnya. Mungkin. Mungkin karena di sini tak begitu ramai. Mungkin karena ada es kelapa muda. Mungkin karena ombaknya tidak terlampau besar. Mungkin karena banyak komponen berwarna biru. Mungkin karena— ada kamu. 

"Atau mungkin karena lautnya... biru, ya?"

Kali ini aku menoleh cepat dengan sedikit terperanjat. Melihat itu, kamu melanjutkan, "Kamu selalu suka warna biru, 'kan?"

"Iya." mau mengelak pun aku akan berakhir seperti ombak di depan; kembali menghampiri bibir pantai, seolah itu tempatnya berlabuh. 

"Karena aku, ya?" Dengan cepat aku mengangguk, "iya."

Sekarang gantian kamu yang kaget. Dari ujung mata, aku melihat kamu yang menyerongkan badan—ke arahku. Pada hitungan ketiga, kamu berkata, "kenapa?" Aku melihat kamu sekilas sebelum mengalihkan ke deburan ombak.

"Aku ga pernah suka warna biru. Tapi, begitu kenal kamu— my world suddenly turns blue."

Benar, Kai. Semua jawabanku beresonansi ke namamu dan kembali lagi ke kamu. Pun, ketika kamu tak ada, aku akan melihat ke langit; sebab—tingginya ia berwarna biru, seperti kamu.


Semuanya karena kamu, Kaiser. Karena kamu.

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi