BERSUA

"di ujung jari kita ada cinta, aku menulis warna di tanganmu, kau menggambar suara di telingaku."

Ibarat buku. Memahami Michael Kaiser seperti membaca buku yang terbuka lebar. Siapapun bisa melihat isinya. Atau menerka kelanjutannya. Barangkali ikut hanyut pada lautan emosi diksi. Sebagian ada yang menyoroti hal-hal indah. Tapi, siapapun belum tentu mampu memahami keseluruhan maknanya.

Dua mata birunya seumpama cover buku yang menarik atensi. Membuat orang terpikat. Dan belakang tubuhnya, seperti ada sinopsis yang membentang di punggung dan menjuntai hingga kaki. Tersembunyi karena isinya sepi.

"Sebagai manusia, Kamu terlalu mirip buku, Kai. Terlalu mudah dibaca." Ucapku

Dia hanya tertawa kecil. Sebagian lagi mirip seringaian. Dan Kai membalas di beberapa detik berikutnya, "Tapi, 'kan, gak semua orang suka membaca, Nyonya.  Let alone understand it. Dan, terlalu mudah dibaca bukan berarti mudah dipahami." 

Kalau ramuan amortentia terjual bebas di seluruh apotek, mungkin kita berdua adalah overdosis yaang terlambat ditangani

Michael Kaiser itu adil—dalam menghadirkan semu merah muda, juga, berisik gelak tawa. 
Dan Michael Kaiser adalah konsisten—setidaknya sampai hari ini—untuk melahirkan degup jantung yang meletup kencang.

"Mau langsung pulang? Jalan dulu, yuk? Ke toko buku atau ke mana, deh? Mana tau kamu mau beli bacaan baru." Katanya

Aku memandang lantai keramik yang terlihat lebih menarik dibanding dua safir Kaiser.
Berikutnya, aku mulai membalas, "Tapi aku udah ada bacaan baru, Kai."

Kaiser meninggikan alisnya, "Apa? Kok kamu belum cerita?"

Diamku menghadirkan tanda tanya besar dari pemilik manik biru. Dan alih-alih jawaban, aku berjalan pelan menuju kasir—seiring dengan wajahku yang perlahan menghangat.

Kamu, Kaiser. Kamu. Yang secara mendadak dan tanpa permisi, menjelma menjadi bacaan yang kunanti tiap lembar ceritanya. Dan karena itu kamu Kaiser, kamu menjadi buku kesukaan yang akan aku baca terus-menerus. Tanpa mengharap akhir.


Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi