The Fallen Angel

Sang pemimpin malam enggan berhenti merapal puja sambil sesekali mengecup dahi kekasihnya. Memuja elok tubuh yang telah lama ia damba, memuja cantik perangai pula hati yang seluas samudra.

Bumantara percaya bahwa Amertanya adalah sebaik-baiknya Tuhan menciptakan sebuah raga. Seakan insan lain hanya bentuk dari sebuah kesalahan. Sedangkan sebaik-baiknya rupawan wujud nyata ada di hadapannya.

Bumantara percaya bahwa perangai yang ia tindaki ini cukup untuk mengubah bumi menjadi nirwana. Percaya bahwa Amertanya adalah alasan mengapa detik terus bergerak, kupu-kupu tetap berdansa dan kosmik masih riuh di angkasa raya.

Jika benar surga dunia itu nyata, maka Amerta serta raganya mungkin bisa jadi salah satunya.

Sang malaikat ayu begitu ringkih dalam kungkungannya. Amat tak rela jika harus ia lepaskan kembali ke atas sana. Karena ia percaya Amerta adalah telak untuknya. Dan ialah si kesatria penyelamat bahagianya.

Adalah benar Bumantara begitu tamak seperti parasnya. Bagai rasi bintang di angkasa, ia petakan dua belas kecupan, agar Yang Maha Esa tahu betul raga itu benar adalah miliknya.

Comments

Popular posts from this blog

Riwayat si Tuan dan si Puan

Yang fana adalah waktu, kamu abadi.

Rekonsiliasi