The brown eyes looked at me like staring in awe of Van Gogh gallery
Hujan begitu deras mendirus bumi sore ini. Jendela yang membatasi kita dengan dunia luar menjadi tameng yang begitu kokoh menerima tiap terjangan. Aku, di dalam sebuah ruangan yang tak lagi asing, sedang menjalani sebuah normal baru; Bertemu denganmu, Bentala.
Kulayangkan pandang kepadamu yang sedang tekun membaca buku di hadapanku. sosokmu begitu adun dengan satu tanganmu yang menopang dagu. Rasa penasaran mengetuk-ngetuk kepalaku perihal banyak hal. Apa yang memprovokasi pikiranmu saat kernyitan muncul pada dahimu? atau ketika kacamata yang kamu pakai melorot sejalan dengan kerutan pada pangkal hidungmu?
Aku ingin mengenalmu lebih banyak.
"Kenapa?"
Suara beratmu menarikku kepada realitas, namun kemudian menjadi satu-satunya suara yang mampu telingaku terima.
"Gak apa-apa. Memangnya aku kenapa?"
Ah. Bentala, kau tak pernah tahu bagaimana menyenangkannya melihat wajahmu seketika senderut saat aku melontarkan hal-hal yang mengusik rasionalitas yang kamu miliki. Mungkin, bagimu aku hanyalah fantasi yang bersemayam dalam benak anak kecil tanpa diketahui para dewasa. Dan kamu, sang dewasa yang mengutamakan logika pastilah enggan menyelamiku. Tidak masalah. Anggap saja aku sebagai anak kecil yang ingin memahami pikiran orang dewasa, dan aku tak menuntutmu untuk memahami pemikiran anak kecil sama sekali.
"Fiksi kesukaan saya gak ada hubungannya dengan pilihan masa depan saya."
Jawabanmu yang begitu kaku membuatku enggan bertanya lebih banyak. Kamu tampak seperti seorang yang tahu kemana harus melangkah dengan pilihanmu sendiri. Sementara aku hanya bisa luntang-lantung mencari arah yang tepat.

Comments
Post a Comment